Melacak Jejak Suku Dayak Bakumpai

Oleh: (*Setia Budhi)

Dinding Muller yang terjal dengan perjalanan selama dua hari, dari hulu Sungai Barito menuju hulu Sungai Mahakam, tak menyurutkan semangat anggota tim ekspedisi untuk terus bergerak.

Ini adalah ekspedisi penuh tantangan. Misi utama yang tergabung dalam tim antropologi itu di antaranya melacak kembali komunitas etnis Dayak di kawasan Muller yang dulu sebab daerah itu merupakan kawasan penelitian etnografi Borneo terpenting di kalangan peneliti Eropa sekitar abad ke-19.

Hari menjelang petang, gerimis menyapu tanah liat di Kampung Tumbang Topus. Kampung yang merupakan hulunya hulu Sungai Murung yang anak Sungai Barito ini merupakan kawasan pertemuan hampir semua suku Dayak. Kampung Tumbang Topus paling tidak dihuni enam suku Dayak dari Dayak Ot Danum, Dayak Siang Murung, Dayak Bahau, Dayak Kahayan, dan Dayak Bakumpai dan Dayak Punan Murung.

Di kampung yang hanya dimukimi sekitar 70 kepala keluarga ini boleh dikata hidup berkerumun berbagai suku Dayak, tanpa mengenal batasan kesukuan ataupun batas-batas teritorial.

Menelusuri jejak suku Dayak Bakumpai dalam dunia Dayak abad ke-21 sudah tentu akan berbeda dengan era di mana ritual ngayau atau memenggal kepala manusia, masih bersemayam dalam kisah petualangan para kepala suku Dayak masa lampau.

Tiba di hulu Sungai Barito, suara burung enggang melengking pendek di ketinggian pohon ulin yang menjulang. Ketika membaur dan bergaul intim dengan masyarakatnya,jejak Dayak Bakumpai terasa menjadi makin kuat.

Inilah kenyataan etnografi. Sebab bahasa Bakumpai yang menjadi bagian dari bahasa kelompok suku Dayak Ngaju, di Kampung Tumbang Topus masih terciri sebagai bagian dari percakapan sehari-hari.

Kisah para lelaki Dayak Bakumpai sebagai pencari kayu gaharu, peladang dan pemburu sarang burung walet yang merupakan primadona mata pencaharian penduduk, adalah cerita mengenai kegagahan dan maskulinitas tersendiri, pada jalinan sejarah suku Dayak di belantara Kalimantan ini.

Hans Scharer sebagai pakar antropologi Eropa mengategorikan orang Dayak di hulu Sungai Barito adalah Dayak Ngaju. Ngaju di dalam bahasa lokal berarti “Ke hulu” dan digunakan pula dengan Ngajus untuk mencirikan diri mereka berbeda dari oloh Tumbang atau orang-orang dari muara sungai.

Batu tulis Saripoi

Apabila Bernard Sellato menyebutkan di pedalaman Kalimantan Tengah terdapat suku Dayak Ot Danum yang dihubungkan dengan Ngaju atau di Sungai Barito disebut juga Biaju, maka Ngaju adalah suku Dayak yang populasinya dominan di Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka inilah yang ditemukan di sepanjang sungai yang mengalir ke Kalimantan Selatan, hingga tembus ke Laut Jawa.

Dialek bahasa Dayak Ngaju di Sungai Kahayan memang menjadi bahasa penghubung di Kalimantan Tengah yang begitu kuatnya sehingga masih tetap digunakan sebagai bahasa sehari-hari warga di Tumbang Karamo, Desa Tujang, dan Kampung Tumbang Topus.

Malah beberapa ritual pun masih tetap dijalankan di desa-desa tepian Sungai Barito itu. Bahkan pada setiap kampung di hulu Barito, masih ditemukan patung peninggalan upacara Tiwah, upacara pengantar arwah ke negeri para leluhur.

Sejauh ini diketahui bahwa orang Dayak Ngaju tidak pernah membangun rumah panjang. Akan tetapi, di sungai hulu Barito di Desa Makunjung, Desa Konut, dan Muara Bubuat, tradisi rumah panjang masih bertahan dan menjadi bagian hidup dan budaya.

Perjumpaan dengan Batu Bertulis atau Batu Antik Lada di Desa Saripoi, Kecamatan Sumber Barito, merupakan suatu pembuktian penting dari kedekatan suku Dayak Bakumpai dengan Dayak Siang dan Ot Danum.

Suku Dayak Siang menyebut Batu Bertulis di Saripoi sebagai bukti peninggalan seorang tokoh yang bernama Lada. Maka orang Bakumpai mengenal Ngabe Lada sebagai tokoh yang hidup pada masa awal migrasi besar-besaran orang Bakumpai di hulu Barito, yang meneruskan perjalanannya ke hulu Sungai Mahakam.

Ngabe Lada adalah narasi lain yang mungkin akan sangat berguna, untuk mengetahui kisah panjang mengenai leluhur suku Dayak Bakumpai, selain tokoh Datu Bahandang Balau.

Ketokohan Ngabe Lada maupun Datu Bahandang Balau dalam mitologi Dayak Bakumpai tentulah akan sangat membantu penelusuran hubungan rapat antara Dayak Bakumpai dan Dayak Siang, Murung, dan Ot Danum.

Kalau benar Sang Lada atau Ngabe Lada meninggalkan kisah di Batu Bertulis di Desa Saripoi, di mana menggambarkan kisah suci pohon kehidupan Batang Garing, rumah panggung, dan goresan cerita alam pewayangan, maka yang terakhir seperti hendak menyatakan bahwa muasal ritual manyanggar lebo dan Badewa pada suku Dayak Bakumpai sebagai faktual akan kedayakan orang-orang Bakumpai.

Ritual Badewa, menyanggar, dan menggunakan bahasa Ngaju pada komunitas Bakumpai memiliki makna penting yang tak dapat dibantah bahwa Bakumpai adalah Dayak. Sesuatu yang belakangan telah menjadi rujukan etnografi meskipun sejarah kolonial mengotakkan suku Bakumpai yang Islam menjadi Melayu atau oloh Melayu.

Migrasi ke Mahakam

Rombongan pun tiba di Sungai Sebunut, Kalimantan Timur, dengan selamat. Saat itu juga terdengar denging mesin gergaji chainsaw. Di tanah daerah Kecamatan Long Bagun Ulu itu ternyata ada kisah menarik tentang jejak perjalanan Dayak Bakumpai ke Mahakam. Tentu saja kisah penuh nestapa ketika anak-anak manusia Bakumpai itu mencari tanah kehidupan lebih baik sambil menjaga dan mempertahankan hidupnya.

Selayaknya orang Bakumpai yang bermata pencaharian pokok sebagai petani tadah hujan di kampung asal Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, kehidupan yang amat bergantung pada kemurahan dan kemudahan alam, sungguh sulit dapat mendatangkan perubahan.

Juga di zaman penjajahan Belanda, jalur migrasi Bakumpai ke hulu Mahakam melalui Pegunungan Muller sungguh sulit.

Belanda sudah membangun benteng dengan pemeriksaan ketatnya di Puruk Cahu, untuk mengawasi lalu lintas perdagangan emas dan hasil hutan. Misalnya, kasus terbunuhnya kapten serdadu Belanda dalam kemelut peperangan melawan Panglima Durasyid sekitar tengah abad ke-19.

Sementara itu, Mahakam yang sejak dulu disebut-sebut sebagai lumbung emas, hutan yang lebat, sarang walet, dan kayu gaharu menjadi daya tarik arus migrasi Bakumpai. Itulah yang membuat Maja, Ucu Lii, dan Harpan pada tahun 1969 terangsang untuk mengadu nasib dan mempertaruhkan badan dan tenaganya, pergi ke hulu Mahakam.

Jalur pertama yang mereka tempuh adalah jalan kaki dari Muara Teweh ke kampung orang-orang Benuaq di kawasan Kutai Barat sekarang. Perjalanan waktu telah mengantarkan orang-orang Bakumpai perantau dan melakukan kontak dengan kampung-kampung lain di Datah Bilang, Mamahak, Long Bagun, bahkan pernah sampai ke daerah Kapit-Kelabit di Malaysia.

“Ngayau dan perampok merupakan cerita nyata yang kami alami sendiri, selama mengembara di hutan-hutan mencari sarang walet, atau menebang kayu” kata Maja di rumahnya di Kampung Long Bagun Ulu, Kaltim.

Penuturan Ni Galuh di Long Iram menyebutkan bahwa fase awal orang Bakumpai ke Kaltim karena tekanan pada situasi Perang Barito tahun 1863. Banyak orang Bakumpai bersama orang-orang Banjar di Puruk Cahu, Muara Teweh, dan Marabahan yang menyingkir ke Mahakam untuk menghindari perang yang berkecamuk itu.

Sesudah pejuang Bakumpai bersama Dayak Siang dan Dayak Ot Danum menenggelamkan kapal perang Belanda Onrust di hulu Sungai Barito, sejak itu pula Belanda “memburu” tokoh pejuang itu, antara lain Tumenggung Surapati dan Panglima Wangkang.

Pencarian tanpa batas oleh pihak Belanda itulah yang meresahkan penduduk dan akhirnya penduduk memilih menyingkir ke Mahakam, lalu sebagian lagi ke Waringin.

Khususnya Long Iram yang sempat menjadi kampung perdagangan di wilayah hulu di bawah Kerajaan Kutai. Pembangunan Long Iram tak lepas dari orang Bakumpai meski Long Iram sudah dihuni orang Dayak Bahau.

Jejak suku Dayak Bakumpai tak hanya berhenti di Long Iram. Generasi kedua dan ketiga sesudah tokoh Dayak Bakumpai itu terus melakukan diaspora ke pelbagai kawasan karena Dayak Bakumpai memiliki riwayat peradaban di Kalimantan.

Sumber : kaskus.co.id

Related posts

Leave a Comment